radarutama.com – Bendahara Asosiasi Fastboat Sanur di Bali Nengah Kertawijaya mengatakan sejak adakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), seluruh pengusaha speedboat di Sanur, Denpasar, yang tergabung dalam asosiasi menaikkan tarif penyeberangan hingga 30 persen.

“Untuk harga kamimenyesuaikan dengan kenaikan harga BBM, karena harga minyak naik kisaran 30-31 persen, jadi otomatis harga tiket kami naikkan dengan kalkulasi yang sama,” kata Kartawijaya di Denpasar, Jumat.

Kenaikan tarif penyeberangan dari Sanur menuju Nusa Penida maupun Nusa Lembongan atau sebaliknya yaitu Rp100 ribu untuk domestik, dengan biaya sebelumnya Rp75 ribu. Sementara untuk wisatawan mancanegara menjadi Rp200 ribu dari sebelumnya Rp150 ribu.

Karta menyebut angka ini menyesuaikan dengan biaya bahan bakar Pertalite yang selama ini digunakan para pemilik speedboat, di mana sejak Sabtu (3/9) lalu harganya naik dari Rp7.650 menjadi Rp10.000 per liter.

Meskipun kenaikan harga BBM naik sejak Sabtu, anggota Asosiasi Fastboat Sanur baru dapat menaikkan harga pada Rabu (7/9), lantaran para pengunjung mengeluhkan tarif yang naik secara mendadak

Selama empat hari sejak pemerintah resmi menaikkan harga BBM, Karta menyebut tak ada kerugian yang terjadi, akan tetapi para pengusaha speedboat harus mengalami penurunan laba, mengingat dalam satu kali perjalanan pulang-pergi, speedboat membutuhkan bahan bakar paling sedikit 300 liter.

“Kalau boat Wijayabuyukada dua yang kapasitas 100 dan 150 penumpang, itu menghabiskan pulang-pergi 400 liter, yang satunya 500-600 liter. Speedboat paling seirit-iritnya itu 300 liter,” ujar Bendahara Asosiasi Fastboar Sanur kepada media.

Dampak dari kenaikan tarif penyeberangan Sanur ini terlihat dari menurunnya jumlah penumpang, terutama kalangan domestik. Dari yang sebelumnya 200-500 penumpang menurun hingga 150 orang.

“Otomatis ada penurunan sekitar 10-20 persen, dari sebelumnya berangkat dua sampai tiga boat sekarang hanya satu boat. Saya punya boat yang biasanya dua boat tapi tiga hari berturut-turut satu boat saja jalan,” kata Karta.

Ia menyampaikan bahwa apabila harga BBM tetap tinggi maka kecil kemungkinan tarif penyeberangan kembali seperti dahulu, pun juga informasi bahwa kendaraan di atas 1.500 CC dilarang menggunakan Pertalite akan semakin meningkatkan tarif.

“Ada rencana pemerintah untuk tidak boleh menggunakan Pertalite, otomatis pakai Pertamax jadi harga berubah. Merugikan masyarakat pasti, tapi kamisebagai operator dan perusahaan mengikuti. Untuk di Bali belum diterapkan, mudah-mudahan tidak karena bisa naik 50 persen,” ujar Kartawijaya yang juga pemilik speedboat bernama Wijayabuyuk.

Abdurrahim (39) pengguna penyeberangan yang sengaja datang ke Bali dari Banjarmasin untuk berwisata ke daratan Nusa Penida,mengaku terkejut lantaran tarif penyeberangan tak sesuai dengan harga yang ia ketahui.

“Kami juga belum tahu harganya naik dan baru tahu waktu sampai di sini. Dari kami ingin harga normal, kami juga ingin tahu kenaikan harga karena apa. Tapi kalau kenaikan harga BBM berpengaruh dan masuk akal juga,” kata dia kepada media.

Meskipun demikian, wisatawan yang berprofesi sebagai fotografer itu mengaku tetap ingin berkunjung ke Bali maupun Nusa Penida, lantaran tempat wisata tersebu sebagai lokasi paling favorit.