radarutama.comJakarta, CNBC Indonesia – Kurs rupiah berhasil melibas dolar Amerika Serikat (AS) hingga di pertengahan perdagangan Jumat (9/9/2022). Indeks dolar AS terkoreksi di pasar spot, membuka jalan untuk Mata Uang Tanah Air menguat.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah terapresiasi pada pembukaan perdagangan sebanyak 0,23% ke 14.860/US$. Kemudian, rupiah melanjutkan penguatannya sebesar 0,3% ke Rp 14.850/US$ pada pukul 11:00 WIB.

Penguatan Mata Uang Garuda ditopang oleh pelemahan indeks dolar AS, bahkan kini dolar AS kembali ke level 108.

Pukul 11:00 WIB, indeks dolar AS yang mengukur kinerja si greenback terhadap enam mata uang dunia lainnya, kembali melemah 0,7% ke posisi 108,94, setelah pada Rabu (7/9) sempat menyentuh rekor tertinggi dua dekadenya ke posisi 110,79.

Meski begitu, pelemahan dolar AS masih tetap terjaga karena bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) diprediksikan akan tetap hawkish untuk beberapa waktu ke depan.

Pada Kamis (8/9), Ketua The Fed Jerome Powell memberikan pidatonya dan mengatakan bahwa The Fed tidak akan gentar dalam upayanya untuk meredam inflasi ‘sampai pekerjaan selesai’.

“Kita perlu bertindak sekarang, terus terang, kuat seperti yang telah kita lakukan,” kata Powell dalam sambutannya di konferensi kebijakan moneter Cato Institute di Washington.

“Rekan-rekan saya dan saya sangat berkomitmen untuk proyek ini dan akan terus melakukannya.”

Powell telah mengakui bahwa kampanye agresif dapat menyebabkan beberapa rasa sakit, tetapi dia telah berulang kali menekankan bahwa bertindak sekarang akan mencegah konsekuensi yang lebih merusak di kemudian hari.

Pada 1980, inflasi AS sempat menyentuh 14,8% dan tidak turun ke satu digit sampai tahun berikutnya. Powell mengatakan bahwa sejarah tersebut memberikan mereka peringatan untuk tidak melonggarkan kebijakan moneter sebelum waktunya.

Kini, sebanyak 87% analis memprediksikan kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed sebanyak 75 basis poin (bps) pada pertemuan bulan ini, naik dari sebelumnya 79%, jika mengacu pada alat ukur FedWatch.

Namun, investor global masih menantikan rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) AS per Agustus 2022 yang akan dirilis pada 13 September 2022. Analis memprediksikan IHK akan kembali melandai ke 8,1% dari 8,5% pada bulan sebelumnya.

“Saya pikir pasar sekarang mulai melihat ke pekan depan, IHK AS, dan saya pikir sampai batas tertentu, itu akan menentukan apa yang diharapkan dari The Fed,” kata Rodrigo Catril, ahli strategi mata uang di National Australia Bank.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2022 yang berada di 202,8, tumbuh 5,4% secara tahunan. Kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan penjualan Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau.

Secara bulanan, penjualan eceran diprakirakan tumbuh 1,3% (month-to-month/mtm), setelah sebelumnya mengalami kontraksi selama tiga bulan beruntun. Peningkatan didukung oleh meningkatnya penjualan Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta perbaikan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori.

Dengan data tersebut, BI memprediksikan bahwa kinerja penjualan eceran akan tetap kuat pada Agustus 2022.

Terkoreksinya dolar AS, menjadi momentum tepat untuk penguatan mayoritas mata uang di Asia. Yen Jepang yang berstatus mata uang safe haven, berhasil menjadi pemimpin penguatan mata uang di Asia karena terapresiasi 0,66%.

Sementara itu, baht Thailand dan dolar Singapura menyusul, di mana menguat yang masing-masing sebesar 0,52% dan 0,47% terhadap dolar AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA