radarutama.comJakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah tipis pada penutupan perdagangan sesi I Jumat (9/9/2022) di tengah sentimen eksternal terkait suku bunga The Fed yang masih dinantikan oleh pasar.

IHSG dibuka menguat di posisi 7.267,22 dan ditutup di zona merah dengan koreksi 0,07% atau 4,73 poin ke 7.227,29 pada penutupan perdagangan sesi pertama pukul 11:30 WIB. Nilai perdagangan tercatat turun ke Rp 8,1 triliun dengan melibatkan lebih dari 19 miliar saham.

Menurut data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak perdagangan dibuka IHSG sudah berada di zona hijau. Selang 10 menit, penguatan IHSG terpangkas dengan penguatan 0,22% di 7.247,51. Pukul 09:30 WIB IHSG terpantau berbalik arah ke zona merah dengan pelemahan 0,26% ke 7.212,96 dan konsisten melemah hingga penutupan perdagangan sesi I.

Level tertinggi berada di 7.270,3 sesaat setelah perdagangan dibuka sementara level terendah berada di 7.206,37 sekitar pukul 09:30 WIB. Mayoritas saham siang ini melemah yakni sebanyak 263 unit, sedangkan 221 unit lainnya menguat, dan 196 sisanya stagnan.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih menjadi saham yang paling besar nilai transaksinya hari ini, yakni mencapai Rp 958,5 miliar. Sedangkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyusul di posisi kedua dengan nilai transaksi mencapai Rp 428,9 miliar dan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) di posisi ketiga sebesar Rp 310,3 miliar.

Semalam, ketiga indeks saham acuan Wall Street bergerak dengan fluktuasi tajam. Meskipun sempat melemah di awal perdagangan, indeks sukses rebound dan finish di zona hijau.

Indeks Dow Jones menguat 0,61% sedangkan S&P 500 naik 0,66% dan Nasdaq Composite naik 0,60% di saat yang sama. Volatilitas di pasar saham AS masih sangat terkait dengan arah kebijakan moneter bank sentralnya yang diperkirakan bakal semakin ketat.

Powell berbicara pada acara Annual Monetary Conference yang diselenggarakan Cato Institute. Dalam kesempatan tersebut, Powell menegaskan akan terus menaikkan suku bunga sampai target inflasi tercapai.

“Saya meyakinkan Anda, saya dan rekan-rekan saya sangat berkomitmen dalam proyek ini (menaikkan suku bunga) sampai tugas kami selesai (inflasi turun),” kata Powell.

Pasca pernyataan tersebut, pasar melihat suku bunga akan dinaikkan lagi sebesar 75 basis poin bulan ini, dengan probabilitas sekitar 86%.

Sentimen lain juga datang dari bank sentral Eropa (ECB) yang memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin (bps).

Kenaikan tersebut sesuai dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar. Namun dalam pernyataannya ECB memberikan sinyal bahwa ke depan kenaikan suku bunga acuan masih akan terus dilanjutkan mengingat laju inflasi yang masih jauh dari sasaran target.

“Langkah besar ini mengawali transisi dari tingkat kebijakan yang sangat akomodatif yang berlaku ke tingkat yang akan memastikan pengembalian inflasi tepat waktu ke target jangka menengah 2% ECB,” kata lembaga itu dalam sebuah pernyataan yang dikutip CNBC International.

Langkah ini sendiri mengikuti kenaikan dari -0,5% menjadi nol pada Juli lalu. ECB sendiri memang telah mempertahankan suku bunga di wilayah negatif sejak 2014 dalam upaya untuk memacu pengeluaran dan memerangi inflasi yang rendah.

Namun saat ini, situasi di Eropa berubah dengan inflasi yang mencapai di atas 9%. Hal ini terjadi sebagai dampak dari perang Rusia dan Ukraina yang mengganggu pasokan energi untuk wilayah Benua Biru.

Keputusan ECB untuk menaikkan suku bunga juga sudah mensinyalkan era suku bunga rendah sudah mulai berakhir, hal ini tentunya bukan kabar baik bagi pasar modal.

TIM RISET CNBC INDONESIA