radarutama.com – Platform transaksi aset kripto , Indodax, menyatakan bahwa aset kripto jenis Ethereum berpotensi meningkat ke depannya. Ini disebabkan oleh masuknya Ethereum ke dalam fase The Merge.

CEO Indodax Oscar Darmawan menjelaskan, The Merge merupakan transisi jaringan Ethereum, dari mekanisme proof-of-work (PoW) ke mekanisme proof-of-stake (PoS). Dengan mekanisme PoS yang diklaim lebih efisien, permintaan terhadap kripto dengan kode ETH itu berpotensi terkerek.

“Jika, dijelaskan secara sederhana, Ethereum didapatkan dengan cara mining atau penambangan, seperti Bitcoin. Mekanisme proof-of-work diclaim mengonsumsi energi listrik yang besar karena alat penambang Ethereum membutuhkan spesifikasi komputer tinggi dan rig mining yang komplit serta listrik yang besar,” tutur Oscar, dalam keterangannya, Jumat (9/9/2022).

Sementara melalui metode PoS atau staking, investor hanya menggunakan modal internet sehingga lebih simple dan ramah lingkungan. Ini berpotensi membuat ETH lebih berharga, meskipun sejatinya harga aset kripto bergantung pada kondisi pasar.

Lebih lanjut Ia mengungkapkan, transisi tersebut merupakan bagian dari upgrade Ethereum 2.0. Ini merupakan lanjutan dari pengembangan main chain Ethereum yang disebut dengan Mainnet dan peluncuran Beacon Chain.

“Fase kedua yaitu fase The Merge di mana Mainnet dan Beacon Chain digabungkan dan jaringan Ethereum pun mulai beroperasi menggunakan mekanisme Proof-of-Stake,” kata dia.

Adapun fase ketiga sekaligus fase terakhir dari Ethereum 2.0 disebut dengan sharding, yang kemungkinan besar akan diluncurkan pada tahun 2023. Apabila fase ini telah terlewati, Ethereum disebut akan dapat menangani ribuan transaksi per detik.

Dengan adanya sharding ini tentu Oscar berharap berpengaruh pada penurunan gas fee. Karena selama ini, mahalnya gas fee merupakan kekurangan dari Ethereum itu sendiri.

“Harapan saya, momentum The Merge bisa dimanfaatkan trader aset kripto untuk mendapatkan profit. Karena di kemudian hari pun akan berpotensi naik,” tutup Oscar.