radarutama.com – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot ditutup menguat pada perdagangan Jumat (9/9/2022). Terpantau sejak pembukaan perdagangan nilai tukar rupiah terus bergerak di zona positif.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan hari ini, nilai tukar uang Garuda terhadap dollar AS ditutup pada level Rp 14.830 per dollar AS, naik 70,5 poin atau 0,47 persen dari penutupan kemarin.

Pada sesi perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS bergerak pada rentang Rp 14.815 – Rp 14.880.

Sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah juga menguat.

Tercatat rupiah berada pada level Rp 14.846 per dollar AS pada Jumat hari ini, menguat dari posisi Kamis (8/9/2022) kemarin sebesar Rp 14.905 per dollar AS.

Penguatan rupiah terjadi di tengah kondisi global yang diwarnai oleh pengetatan kebijakan moneter yang agresif dari berbagai bank sentral. Langkah kenaikan suku bunga acuan yang tinggi tidak terhindarkan, untuk memerangi lonjakan inflasi yang masih berlangsung.

Teranyar, Bank Sentral Eropa mengkerek suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin atau setara 0,75 persen. Ini menjadi kenaikan suku bunga paling tinggi yang perna dilakukan Bank Sentral Eropa sepanjang sejarah.

Kenaikan tersebut disusul dengan pernyataan Ketua The Federal Reserve, Jerome Powell, terkait komitmennya untuk meredam lonjakan inflasi. Ini menjadi sinyal kuat kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 75 basis poin pada pertemuan September ini.

“Penurunan klaim pengangguran AS juga menunjukan kekuatan di pasar tenaga kerja, memberi The Fed lebih banyak ruang untuk menaikan suku bunga acuan,” ujar Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, dalam risetnya.

Berbagai sentimen pengetatan moneter tersebut justru mendongkrak nilai tukar mata uang negara regional Asia terhadap dollar AS, mulai dari yuan Jepang meningkat 0,9 persen, dollar Hong Kong naik 0,01 persen, dollar Singapura menguat 0,58 persen, won Korea Selatan naik 0,24 persen, hingga ringgit Malaysia menguat 0,1 persen.