radarutama.com – Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melakukan penandatanganan nota kesepahaman untuk mempercepat literasi dan inklusi keuangan digital di Indonesia.

Nota kesepahaman tersebut mencakup 5 area strategis.

Pertama, kolaborasi dalam merumuskan skema dan standar kompetensi talenta digital terutama di ekosistem bank digital Indonesia.

Kedua, kolaborasi penyusunan roadmap dan riset terkait bank digital yang melibatkan industri perbankan dan ekosistem digital di Indonesia untuk mendukung strategi percepatan inklusi keuangan.

Lalu, melakukan edukasi untuk masyarakat umum tentang pentingnya menggunakan produk jasa keuangan berizin resmi dari regulator terkait. Hal ini demi mencegah aktivitas jasa keuangan yang tidak sesuai peraturan undang-undang.

Keempat, berpartisipasi bersama regulator dalam memberikan masukan terkait regulasi maupun kode etik.

Terakhir, melakukan kolaborasi dalam kegiatan publikasi dan edukasi literasi keuangan dan digital.

Wakil Kepala Badan III Sistem Pembayaran Digital dan Neobank Kadin Indonesia Kaspar Situmorang menjelaskan, Indonesia saat ini memasuki dunia digital financing service.

Perubahan perilaku konsumen ke digital diikuti oleh pertumbuhan jumlah dan volume transaksi keuangan perbankan digital.

“Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai transaksi digital banking pada tahun 2021 mencapai Rp 39.841,4 triliun atau tumbuh sebesar 45,64 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, peningkatan transaksi melalui dunia digital harus diikuti dengan peningkatan literasi dan inklusi dunia keuangan,” kata dia dalam konferensi pers, Jumat (9/9/2022).

Ia menambahkan, pada tahun 2021, setidaknya sudah 7 bank telah resmi menjadi jasa keuangan digital di Indonesia. Sementara sekarang, menurut data Aftech sudah terdapat 14 bank digital yang ada di Indonesia.

Bank digital tersebut merupakan bagian dari perbankan konvensional, serta bagian dari fintech, maupun bagian dari technology platform.

“Dengan adanya kolaborasi ini, tiap-tiap pihak akan berperan untuk menciptakan asimilasi talenta digital yang dapat mencetak talenta berkualitas dunia, memiliki global mindset, stay relevant, serta memahami penanganan risiko dan compliance awareness melalui exposure perusahaan–perusahaan penyedia layanan jasa keuangan,” harap dia.

Wakil Ketua Umum III Aftech Harianto Gunawan menjelaskan, kehadiran financial technology akan mempercepat inklusi keuangan di Indonesia.

Menurut dia, saat ini industri fintech didominasi oleh bisnis yang bergerak apada sistem pembayaran dan industri pinjaman yang sudah dimanfaatkan banyak masyarakat.

“Teknologi informasi merupakan support dasar infrastruktur, teknologi mempermudah. Jadi kebutuhan berikutnya adalah digital bank. Industri ini juga akan meningkatkan literasi,” jelas dia.

Sementara, Sekretaris Jenderal Perbanas Anika Faisal mengatakan, kerja sama ini bertujuan menyukseskan inovasi digital demi mendukung pembangunan ekonomi digital di Indonesia.

“Harapannya industri ini dapat bertumbuh bersama,” kata dia.