radarutama.com – Minuman alkohol hasil fermentasi khas Pulau Dewata, yaitu arak Bali, kini semakin terkenal hingga terpilih menjadi salah satu suvenir dalam rangkaian KTT G20 di Bali.

Arak Bali terpilih yang masuk dalam KTT G20 adalah milik perajin perempuan satu-satunya asal Denpasar, Ida Ayu Puspa Eny (65) yang memulai usahanya dalam meracik arak sejak 2008 silam dan kini produknya dinamai Iwak Arumery.

“Ini berbahan dasar arak jung atau arak rempah. Itu Usada atau pengobatan zaman dulu yang banyak dipakai untuk obat batuk, flu, atau sariawan sebagai penghangat. Jadi leluhur Bali sudah tahu arak ini murni dan manfaatnya banyak, terutama untuk kesehatan,” kata Puspa.

Arak Bali milik Puspa diproduksi langsung dari petani lokal di beberapa kecamatan di Kabupaten Karangasemyang berbahan lontar, jaka, dan kelapa untuk kemudian diramu dengan rempah-rempah, madu, hingga buah-buahan.

“Kalau menurut Peraturan Gubernur Bali Nomor 1 Tahun 2020 kamikoperasi mengumpulkan arak dari petani. Di sini kamiproses inovasinya agar dia naik kelas, dari petani kamiawetkan dulu biar baunya hilang, lalu campur rempah, kemudian ada buah dan madu. Ini disimpan enam bulan setelah itu baru dibawa ke pabrik dan baru dapat dikonsumsi,” kata Puspa menjelaskan.

Adapun buah yang menjadi campuran dari arak Bali Iwak Arumery, antara lain mangga, jeruk bali, nanas, kopi, ragam jenis beri, bunga telang, hingga kurma. Untuk rempah, Puspa kerap memanfaatkan jahe merah, vanili, kayu manis dan cengkeh.

Ia mencampurkan arak murni dari petani dengan sejumlah bahan alami yang aman dikonsumsi dan bersertifikasi BPOM untuk mendapatkan warna dan rasa yang tepat.

Di galeri arak Bali miliknya, Puspa menghadirkan berbagai rasa untuk dicoba secara gratis oleh siapapun yang berkunjung. Ini menjadi salah satu upayanya dalam mengenalkan Iwak Arumery kepada masyarakat hingga akhirnya terdengar sampai di kalangan kementerian.

Terpilih di G20

Perajin arak Bali berusia 65 tahun ini awalnya tak mengira usahanya akan menjadi sebesar ini. Ia mulai dikenal saat UMKM miliknya bernama Balibel yang memproduksi daging hasil proses pengeringan terpilih untuk diinkubasi Bank BRI pada tahun 2020.

Balibel kemudian terpilih 10 besar dan diberangkatkan untuk menerima penghargaan di Jakarta. Saat itu Puspa bertemu dengan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dan mengenalkan usaha arak racikannya.

Setelah itu, mulai dari Menteri Koperasi dan UKM, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak hingga anggota DPD RI, mulai mengunjungi galeri milik Puspa di Denpasar.

Akhirnya pada Agustus 2022, arak Iwak Arumery terpilih untuk menjadi suvenir rangkaian KTT G20 pada pertemuan yang diadakan Kementerian Kesehatan Health Working Group (HWG) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Ministerial Conference on Women’s Empowerment (MCWE).

Dalam dua rangkaian KTT G20 itu, Puspa menyiapkan masing-masing 50 botol arak Bali dengan volume 750 mililiter yang terbagi menjadi lima varian rasa, yaitu manggis, kopi, beri (storberi, bluberi, rasberi), origin (rempah), dan ameritha (murni).

Lima varian tersebut merupakan rasa unggulan yang telah berpita cukai, sehingga dapat diedarkan. Puspa mengatakan, suvenir ini diberikan hanya untuk jajaran menteri G20, sehingga jumlahnya terbatas.

Namun, selama pertemuan ia diminta menyediakan sampel dan menjajakan arak Bali, sehingga para delegasi yang tak mendapat suvenir langsung dapat membeli Iwak Arumery di lokasi pertemuan.

“Untuk KTT G20 ke depannya atau puncaknya ada kemungkinan kembali dijadikan suvenir karena ada wacana dengan Kemenparekraf, tapi semoga saja karena ini masih seleksi,” ujar Puspa Eny di Denpasar.

Penjualan arak bali

Selain di KTT G20, Puspa mengatakan bahwa Iwak Arumery saat ini sedang gencar dalam mengenalkan produk arak Bali. Visinya adalah menjadikan arak sebagai minuman premium yang dapat diterima dan digemari dunia.

Sejauh ini ia melihat bahwa kebanyakan penikmat Iwak Arumery adalah mereka yang menyukai minuman beralkohol whiskey. Dari sini ia menilai bahwa produk asal Bali sejatinya dapat bersaing dengan merek luar.

Dengan harga jual Rp700 ribu untuk ukuran 750 mililiter dan Rp500 ribu untuk 500 mililiter ia optimistis usahanya dapat bersaing dengan minuman premium lainnya.

Terkait dengan kesiapan, dalam satu bulan ia dapat menyiapkan 1.000 botol arak Bali yang siap disimpan, dengan kadar alkohol beragam dari 40 persen, 20 persen dan 10 persen.

Puspa berharap, ke depan semakin banyak perajin arak Bali yang berani bersaing dan optimistis dengan produknya. Salah satu yang menyebabkan produknya terkenal karena tidak pelit dalam memberi kesempatan siapapun mencoba secara gratis di galeri, sehingga, menurutnya, ini dapat menjadi contoh.

Selain itu, dengan adanya perajin arak Bali dengan produksi yang semakin tinggi tentunya akan membantu para petani di daerah.

“Petani arak tidak akan pernah sejahtera hidupnya apabila arak belum dapat dipandang dunia sebagai sebuah minuman premium yang layak diperhitungkan,” ujar Puspa Eny.

Salah satu yang mampu mengantarkan arak Bali ke dunia internasional adalah KTT G20. Meskipun dalam satu rangkaian tak banyak botol yang dapat dijual, Puspa yakin bahwa ketika minuman tersebut sampai di negara lain, maka akan ada potensi namanya semakin dikenal.