radarutama.com – Pasar keuangan dalam negeri Indonesia mulai alami kekeringan pasokan dolar Amerika Serikat (AS). Situasi ini bisa dikatakan dalam level yang gawat, mengancam perkembangan nilai tukar rupiah dan ekonomi makro ke depannya.

“Pasti risikonya akan tinggi karena pelemahan rupiah akan terjadi terus,” ungkap Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perbanas, Aviliani dalam program Power Lunch, CNBC Indonesia (Jumat, 09/09/2022).

Asal mula persoalan, kata Aviliani adalah gejolak perekonomian global pasca pandemi covid-19 dan perang Rusia dan Ukraina. Inflasi di beberapa negara melonjak drastis, salah satunya Amerika Serikat (AS) yang bahkan mencapai level 9%.

AS mengambil respons dengan kenaikan suku bunga acuan secara agresif, sebanyak 4x menjadi 2,25% sepanjang tahun ini. Di bulan Juni dan Juli, Fed menaikkan Federal Funds Rate (FFR) masing-masing sebesar 75 bps dan menjadi pengetatan moneter tertinggi sejak tahun 1990-an.

Agresifnya AS ternyata tidak diimbangi oleh Bank Indonesia (BI). Walaupun patut dipahami, BI merasa harus menjaga pemulihan ekonomi yang baru berlanjut pasca pandemi covid. Sayangnya investor tidak mempedulikan hal tersebut.

“Ketika pemerintah AS menaikkan suku bunga kita kan lambat menaikkan suku bunga. Pastikan investor mencari suku bunga mana yang baik buat mereka sehingga sekarang terjadi apa namanya perebutan, dana investor di seluruh dunia saling menaikkan suku bunga sehingga harus diakui banyak capital outflows saat itu,” jelasnya.

Dalam catatan BI, arus modal keluar terjadi di sepanjang tahun, didominasi oleh obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN). Per 1 September, investor asing membukukan jual bersih (net sell) Rp 131,96 triliun di pasar SBN pada 2022. Sedangkan di pasar saham masih ada beli bersih (net buy) Rp 66,06 triliun.

Persoalan selanjutnya adalah peningkatan investasi di dalam negeri. Banyak dunia usaha membutuhkan dana dalam bentuk valuta asing (valas), khususnya dolar AS. Terlihat pertumbuhan kredit valas, jauh lebih tinggi dibandingkan kredit rupiah yaitu 11% berbanding 9%.

Impor juga alami peningkatan signifikan, khususnya untuk bahan baku dan barang modal. Nilai impor Indonesia Juli 2022 mencapai US$21,35 miliar, naik 1,64 persen dibandingkan Juni 2022 atau naik 39,86 persen dibandingkan Juli 2021.

“Jadi dibutuhkan dana untuk impor dan dana untuk investasi itu yang menyebabkan shortage yang selama dua tahun tidak terjadi,” imbuhnya.

Kemudian, lanjut Aviliani, eksportir tidak ikut membantu menambah pasokan valas di dalam negeri. Padahal, untuk sektor pertambangan dan perkebunan kini tengah mendapatkan untung besar dari lonjakan harga internasional. Eskportir cenderung meletakkan dananya di negara lain.

“Devisa hasil ekspor yang ketika pandemi dilonggarkan jadi banyak yang tidak masuk ke Indonesia bahkan terjadi penurunan itu yang perlu ditegakkan kembali tetapi mungkin lebih friendly sehingga orang tidak ketakutan terhadap, uang mereka di Indonesia,” terang Aviliani.

BI bukan tidak tanpa peran dalam menarik likuiditas. Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo sebelumnya menjelaskan yang dimaksud dengan operation twist adalah BI menjual SBN tenor pendek dan membeli di tenor panjang.

“Dengan menjual di tenor pendek akan mempengaruhi yield jangka pendek untuk naik sehingga daya tarik investasi meningkat karena imbal hasil naik, yang akan membantu stabilitas nilai tukar,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia.

Upaya membeli SBN tenor panjang pada akhirnya akan mendorong yield tenor panjang lebih rendah. Alhasil, menurut Dody, struktur yield akan lebih landai dan ini mengindikasikan tekanan inflasi bersifat jangka pendek. Kemudian, BI berharap inflasi akan kembali ke kisaran sasarannya.

Sementara pemerintah baru saja menerbitkan obligasi berdenominasi dolar AS, yaitu global bond format SEC Shelf Registered. D nominal yang diterbitkan adalah sebesar US$2,65 miliar atau sekitar Rp 39,55 triliun dalam 3 seri.