Sleman menuju “lumbung” petani milenial

radarutama.com – Letak geografis Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang berada di lereng Gunung Merapi sisi selatan, membawa daerah yang berjuluk “Bumi Sembada” ini sebagai kawasan subur dalam sektor pertanian.

Gunung Merapi yangaktif dan dalam periode tertentu masih erupsi, membawa dampak baik bagi pertanian di Sleman. Hujanabu vulkanis dari dampak erupsi yang menyiram Bumi Sembada,diyakini dapat menyuburkan lahan pertanian.

Apalagi, sejumlah aliran sungai yang berhulu diGunung Merapi melintasi Kabupaten Sleman, sehingga wilayah ini dapat dikatakan tak pernah mengeluhkanmengenai pemenuhan kebutuhan air untuk sektor pertanian.

Maka cukup masuk akaljika hasil pertanian, khususnya tanaman padi, di wilayah Sleman sangat melimpah, hingga menjadi daerah penyumbang kebutuhan beras tertinggi di DIY. Sleman mendapat predikat sebagai lumbung beras DIY.

Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman mencatat total produksi beras di daerah ini pada 2021 mencapai 254.423 ton gabah kering giling (GKG). Namun, pada tahun 2022, Kabupaten Sleman justru menurunkan target produksi menjadi 249.770 GKG.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman Suparmono menyebutkan alasan penurunan target produksi tersebut karena ada sejumlah faktor.

Salah satu faktor, seiring perkembangan pembangunan wilayah adalah karena luasan lahan pertanian terus mengalami penurunan. Penyusutan lahan pertanian di Sleman mencapai sekitar 50-75 hektare per tahun.

Persentase tersebut baru yang tercatat berupa alih fungsi lahan yang berizin. Sedangkan yang tidak berizin diperkirakan cukup banyak. Karena banyak ditemui pendirian rumah hunian di area lahan pertanian subur, yang tentu saja pengurusan IMB tidak mudah.

Menyiasati hal ini, Pemerintah Kabupaten Sleman mencoba melakukan sejumlah langkah, di antaranya dengan mendorong masyarakat untuk mengoptimalkan lahan pekarangan guna menanam tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan tingkat keluarga.

Selain itu, Pemkab Sleman juga menerapkan pendekatan teknologi modern dengan memanfaatkan tenaga kaum muda yang melek teknologi dengan membentuk kelompokpetani milenial hingga tingkat kelurahan.

Kelompok Petani Milenial

Dalam beberapa tahun terakhir ini Kabupaten Sleman terus gencar membentuk kelompok-kelompok petani milenial dengan menyasar kaum muda di wilayah itu.

Pemkab Sleman hingga kini telah banyak mengukuhkan kelompok-kelompok petani milenial, baik di tingkat kelurahan maupun di tingkat kapanewon (kecamatan).

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengatakan, pembentukan kelompok-kelompok petani milenial tersebut salah satunya adalah untuk menarik minat kaum muda menekuni dunia pertanian, khususnya pertanian modern.

Pembentukan kelompok petani milenial ini juga merupakan bagian dari pelaksanaan program Kementerian Pertanian dalam usaha menjaga kelestarian usaha pertanian.

Petani milenial,seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian nomor 4 Tahun 2019 tentang Pedoman Gerakan Pembangunan Sumber Daya Manusia Pertanian Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045,adalah petani yang berusia 19–39 tahun dan atau petani yang adaptif terhadap teknologi digital.

Jadi, hal utama yang membedakan petani milenial dengan petani “biasa”adalahpada karakternya yang adaptif terhadap teknologi digital. Artinya, para petani milenial didorong menjadi penggerak kemajuan usaha pertanian secara luas dengan memanfaatkan teknologi digital. Teknologi digital harus dipahami dalam arti luas, bukan sekadar aplikasi pemasaran.

Usaha hulu, usaha tani, dan agroindustri juga harus didukung dengan teknologi digital, termasuk pemanfaatan “artificial intelligent” (AI).

Para petani milenial tidak harus berkotor-kotor dengan lumpur, sebab sangat mungkin pekerjaan kotor sudah digantikan robot. Petani milenial bekerja tidak hanya mengandalkan tenaga fisik melainkan lebih mengandalkan kemampuan otak.

Target petani milenial

Bupati Sleman,Kustini Sri Purnomo, menyebutkan bahwa saat ini di Kabupaten Sleman sudah ada lebih dari 410 kelompok petani milenial.

Sedangkan Pemkab Sleman sendiri menargetkan ada sebanyak 2.000 kelompok petani milenial hingga 2024. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat untuk membangun industri pangan berbasis pertanian modern.

Saat ini pemuda banyak yang enggan jadi petani. Tapi, di Kabupaten Sleman, petani milenialmerupakan petani andal dan unggul serta berdaya saing.

Semakin banyak kelompok petani milenial yang ada di wilayah Sleman, maka akan dapat membantu upaya dalam program pengentasan kemiskinan.

Selain itu, kehadiran kelompok petani muda ini diharapkan bisa ikut serta mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Sleman. Pengentasan kemiskinan dari sektor pertanian merupakan hal penting dan bisa memutus mata rantai kemiskinan di Sleman.

Upaya ini bisa dilakukan dengan cara memaksimalkan hasil pertanian dan melakukan akselerasi program pertanian dari hulu hingga hilir.

Pemkab Sleman sangat meyakini dari petani muda ini akan muncul inovasi dan ide-ide kreatif di sektor pertanian nantinya sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat.

Dengan gambaran seperti itu, maka upaya pemberdayaan petani milenial tidak cukup hanya dikerjakan oleh Pemkab Sleman. Apalagi hanya digarap sendirian oleh dinas pertanian.

Dalam spirit merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) tentunya para pengelola perguruan tinggi perlu menjalin kemitraan dengan banyak pihak. Para mahasiswa sangat perlu diberi pengalaman riil dalam kehidupan nyata.

Di sinilah Pemkab Sleman membuka kesempatan yang luas untuk bermitra. Mahasiswa, khususnya dari fakultas pertanian dan fakultas teknolgi pertanian, tidak perlu pergi jauh untuk mempelajari bidang pertanian dalam arti luas.

Bupati Sleman,Kustini Sri Purnomo, berjanji bahwa pemerintah daerah setempat terus berupaya untuk membangun sumber daya manusia (SDM) muda bidang pertanian yang modern, atau petani milenial.

Petani milenial memiliki hak untuk mendapatkan pembinaan, pendampingan dan akses bantuan pertanian dari pemerintah.

Adanya petani milenial di Kabupaten Sleman ini memberi peran penting bagi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan Kelompok Tani dalam memenuhi kebutuhan pangan di Kabupaten Sleman.

Dengan kerja keras dari seluruh anggota Gapoktan dan Kelompok Tani, maka kebutuhan pangan di Kabupaten Sleman yang berpenduduk1,2 juta jiwa dapat terpenuhi. Bahkan, mengalami surplus sekitar 70 ribu hingga 80 ribu ton tiap tahun.

Petani milenial sebagai mitra Pemkab Sleman dalam pengembangan bidang pertanian, dapat berkolaborasi dengan kelurahan dan kapanewon di wilayahnya masing-masing. Sehingga pengembangan pertanian di wilayah Sleman dapat dilakukan lebih terintegrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *