radarutama.com – Meskipun Badan Kesehatan Dunia ( WHO ) telah menetapkan monkeypox ( cacar monyet ) sebagai darurat kesehatan global, masih banyak yang belum mengetahui secara jelas tentang penyakit ini.

Monkeypox atau cacar monyet adalah penyakit langka yang disebabkan oleh virus, yang ditandai dengan demam, pembengkakan kelenjar getah bening, dan ruam yang meluas.

Kemudian, gejala lain yang ditimbulkan oleh cacar monyet adalah ruam yang menyebabkan banyak lesi pada bagian wajah dan ekstremitas.

Cacar monyet merupakan penyakit zoonosis yang sebagian besar kasusnya terjadi di Afrika tengah dan barat. Monkeypox di Amerika Serikat jarang terjadi, meskipun ada beberapa kasus yang dikonfirmasi pada tahun 2021.

Diketahui sebagai penyakit zoonosis, monkeypox bisa ditularkan melalui hewan ke manusia dan begitupun sebaliknya.

Disebabkan oleh virus, virus cacar monyet adalah bagian dari genus orthopoxvirus, yang termasuk virus yang menyebabkan cacar.

Para ilmuwan pertama kali mengidentifikasi penyakit ini pada tahun 1958. Ada dua wabah di antara monyet yang digunakan untuk penelitian. Itu sebabnya kondisi ini disebut cacar monyet .

Kasus pertama monkeypox pada manusia terjadi pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo.

Meski gejala yang ditimbulkan serupa dengan cacar pada umumnya, namun gejala yang ditimbulkan cenderung lebih ringan.

Seseorang yang terinfeksi virus monkeypox butuh lima hingga 21 hari untuk melihat gejala yang muncul. Dalam beberapa kasus, dibutuhkan tujuh hingga 14 hari.

Gejala awal yang ditimbulkan pertama kali adalah sakit kepala, nyeri otot, sakit punggung, kelelahan, menggigil, pembengkakan kelenjar getah bening atau limfadenopati.

Setelah demam berlanjut, biasanya dalam satu atau tiga hari kemudian akan muncul ruam di bagian wajah, telapak tangan, mulut, telapak kaki, mata, dan kornea.

Gejala ruam pada monkeypox atau cacar monyet terdiri dari lesi yang berevolusi seperti, lesi datar berubah warna (macule), lesi yang sedikit terangkat (papula), benjolan dengan cairan bening (vesikel), dan benjolan dengan cairan kuning (pustula).

Setelah lesi mengering maka akan luruh dengan sendirinya. Umumnya, gejalanya berlangsung selama dua hingga empat minggu dan akan hilang tanpa pengobatan.***