Kalau Ingin Hidup Lebih Bahagia, Tak Perlu Membandingkan Derita

radarutama.com – Jakarta Berlebihan dalam membandingkan diri hanya akan merenggut kebahagiaan kita sendiri. Termasuk membanding-bandingkan penderitaan. Seperti ketika kita mencibir orang lain yang menurut kita penderitaannya tak lebih berat dari penderitaan kita, atau merasa yang paling kuat sendiri sehingga meremehkan rasa sakit atau derita orang lain.

Kita pun pastinya tak suka jika dibanding-bandingkan dengan orang lain. Saat orang lain mencibir kita yang dianggap terlalu banyak mengeluh padahal penderitaan kita kecil, kita pun pasti akan makin merasa terpuruk. Derita siapa yang paling besar tak perlu jadi bahan cibiran atau perdebatan.

Takdir, Pilihan Hidup, dan Perjalanan Hidup Orang Berbeda-beda

“… when women start having children, it’s sometimes very painful and stressful and claustrophobic and boring and lonely. And what is also a fundamental truth is that it is incredibly painful, stressful, and claustrophobic, and boring and lonely to not have a family when you want one. Neither experience is more painful or more difficult than the other. Once we free ourselves from asking who feel most sorry for, or who has made the best choice, and just allow those pains to coexist? I think that is the key to intimacy in your friendships.” (Conversations on Love, hlm, 172)

Ada pembahasan menarik di buku Conversations on Love tentang pertemanan antar perempuan yang berubah seiring dengan prioritas yang berbeda. Perempuan yang menjadi sudah punya anak dan menjadi ibu punya masalah berat sendiri untuk dihadapi. Perempuan yang belum menikah dan belum berkeluarga pun punya persoalannya sendiri. Dalam dua kondisi tersebut, tak perlu dibandingkan atau diukur siapa yang paling menderita, sebab masing-masing punya perjuangan dan perjalanan hidupnya sendiri. Jadi, lebih baik tetap saling mendukung dan menyemangati satu sama lain sembari tetap jalani hidup sendiri dengan sebaik-baiknya.

Derita dan rasa sakit tak perlu dibanding-bandingkan. Semua itu sifatnya personal. Belum lagi dengan kondisi dan situasi yang dihadapi masing-masing individu juga tak sama. Sehingga salah satu cara untuk bisa hidup lebih bahagia, tak perl lagi membuang-buang waktu dan energi membanding-bandingkan penderitaan.

“Rasa sakit itu personal. Kita tidak bisa membandingkan rasa sakit yang satu dengan yang lain. Hanya karena ada orang yang lebih menderita daripada bukan berarti rasa sakit yang kita rasakan itu tidak nyata.” (Merawat Luka Batin, hlm. 29)

Tak perlu lagi menghabiskan waktu mencari tahu siapa yang hidupnya lebih berat atau lebih menderita. Tak perlu lagi menyudutkan penderitaan orang lain. Serta tak perlu terlalu bersedih saat ada yang meremehkan rasa sakit kita.

Masing-masing dari kita punya jalan hidup sendiri. Kita punya perjuangan dan perjalanan kita sendiri. Jadi, saatnya untuk bahagia menjalani hidup kita dengan mengedepankan hal-hal yang memang ingin kita perjuangkan dan wujudkan.

#WomenforWomen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *