radarutama.com – Ratu Elizabeth II dikenal dengan sikap yang cenderung menutup pandangan politiknya, termasuk mengenai Brexit dan pemimpin dunia lainnya.

Namun, bukan berarti ia tidak memberikan sinyal halus soal keberpihakannya. Rupanya ratu Inggris itu menyampaikan pandangan secara tersirat lewat pilihan fesyennya.

Jurnalis London, Sali Hughes pernah menuliskan dalam bukunya “Our Rainbow Queen: A Tribute To Queen Elizabeth II and Her Colorful Wardrobe“, bahwa apa yang tidak bisa disampaikan oleh ratu lewat kata-kata akan disampaikannya secara tersembunyi lewat pakaian.

Kode-kode rahasia Ratu Elizabeth

Misalnya, ketika ia mengenakan pakaian dengan warna biru dan kuning pada pembukaan British Parliament setelah kontroversi referendum Brexit di 2016.

Biru dan kuning merupakan warna bendera Uni Eropa. Pakaian yang dikenakan ratu bisa jadi merupakan simbol ketidaksetujuan terhadap Brexit.

“Ada bunga-bunga kuning yang melingkar pada pinggiran topinya. Kurasa itu mengacu pada bendera Uni Eropa,” katanya.

Ratu juga cenderung menunjukkan sikapnya dengan detail fesyen lainnya, misalnya aksesori. Salah satunya pada Juli 2018, ketika ia menghadiri pertemuan dengan Donald dan Melania Trump di Windsor Castle pertama kalinya setelah Donald terpilih.

Pada kesempatan tersebut ratu mengenakan aksesori seukuran bros pada dada kirinya. Aksesori tersebut merupakan hadiah dari Barack dan Michelle Obama.

Ratu yang wafat di usia 96 tahun itu pada kesempatan lainnya juga menggunakan tudung sutra untuk menutupi kepalanya sebagai rasa hormat terhadap budaya dari Pangeran Abdullah dari Arab Saudi.

Namun, di kesempatan yang sama ratu menunjukkan posisi kekuasaannya dengan menyopiri pangeran dengan Land Rovernya.

“Pangeran tampak malu karena duduk di sebelah seorang pengemudi perempuan untuk pertama kali dalam hidupnya,” tulis Hughes.

Hughes mengakui bahwa tanda-tanda tersebut bisa saja merupakan sesuatu yang tidak disengaja. Namun pihak kerajaan tak pernah membenarkan atau menyangkalnya.

“Kita semua tahu tidak ada kecelakaan atau kesalahan pada apa yang dipakai seorang ratu,” katanya.

Masih ada detail menarik lainnya. Misalnya, tas tangan milik ratu. Tas tersebut biasa digunakan sebagai kode rahasia pada stafnya.

Ratu akan meletakkan tas tersebut di lantai jika dia ingin berbicara dengan orang penting yang sedang berada dengannya. Namun, jika ratu meletakannya di atas permukaan, misalnya meja, artinya ia ingin “diselamatkan” dari situasi tersebut.

Meskipun banyak desas-desus bahwa ratu tidak pernah membawa uang, namun ia sebenarnya selalu memiliki uang kertas yang dilipat untuk layanan gereja.

Barang-barang lain yang dilaporkan ada di tasnya termasuk kamera kecil, pengait tas yang dipasang pengisap sehingga ia selalu punya tempat untuk menggantung dompetnya, teka-teki silang yang dipotong dari koran, permen, dan ponsel untuk menelepon cucu-cucunya.

Selain itu, ratu juga tak pernah meninggalkan lipstik merah mudanya sejak masa remaja. Bahkan selama kunjungan bersama mantan ibu negara Amerika Serikat, Laura Bush, ratu menyatakan bahwa lipstik itu bisa saja diaplikasikan di depan umum pada waktu makan siang.

Kecintaan ratu terhadap “color-blocking” juga punya tujuan. Ia senang memakai pakaian dalam satu nada warna agar orang-orang bisa dengan mudah melihatnya.

Hal itu benar. Pada perayaan ulang tahun ke-90 ratu pada 2016 lalu, ia tampil mengenakan pakaian neon lime cerah, membuat warganet di Twitter dan Instagram meluncurkan tagar #NeonAt90.

Pilihan pakaian ratu tersebut juga dilaporkan membuat peningkatan penjualan pakaian dan aksesori warna neon sebesar 137 persen di Inggris.

Meski begitu, ratu tetap menghormati faktor diplomasi. Misalnya, kapanpun ia menghadiri acara internasional seperti Olimpiade, ia akan mengenakan pakaian dengan warna yang tidak berafiliasi dengan banyak bendera, memikirkan budaya lokal serta sensitivitas politik.

“Jika ratu pergi ke Rusia atau Cina, ia juga tidak akan mengenakan warna merah karena tidak ingin diartikan sebagai bias,” katanya.

Hal itu juga dilakukan di rumah. Ratu cenderung tidak akan mengenakan putih, merah, dan biru secara bersamaan karena identik dengan bendera Inggris dan British Airways.

Sebagai seorang perempuan muda di tahun 1940-an dan 1950-an, sang ratu menyukai desainer-desainer Inggris konservatif seperti Norman Hartnell agar tidak terlihat terlalu sembrono.

Ketika Elizabeth menikah dengan Philip Mountbatten pada 1947, masih ada penjatahan pakaian pasca-Perang Dunia II. Bahkan sang ratu harus menggunakan kupon jatah untuk membeli bahan untuk gaun pengantinnya.

Banyak rakyatnya yang setia mengirimkan kepadanya kupon kain mereka sendiri, termasuk perempuan patah hati yang kehilangan tunangannya dalam perang.

Namun, sang ratu merasa tidak nyaman menerimanya.

“Jadi dia mengirim mereka semua kembali dengan catatan tulisan tangan untuk setiap orang,” katanya.

Saat ini, kebanyakan pakaian Elizabeth dibuat oleh desainer pribadinya, Angela Kelly, atau desainer couture Stewart Parvin.

Ratu juga memiliki payung “sangkar burung” transparan Fulton. Ia punya banyak dengan warna pinggiran berbeda untuk melengkapi semua warna pakaiannya.

Hughes menambahkan, semua tampilan ratu sangat terencana. Angela Kelly bertanggung jawab untuk memasangkan setiap item pakaian atau aksesori.

“Ini dilakukan secara detail sehingga tidak ada kesalahan berbusana yang dilakukan ratu,” katanya.