radarutama.com – Amerika Serikat (AS) dan koalisinya di aliansi tujuh negara industri dunia atau G7 berencana untuk menerapkan tarif batas atas bagi pembelian minyak Rusia. Hal ini untuk menurunkan harga minyak dunia yang saat ini sedang mengalami lonjakan pasca serangan Moskow ke Ukraina.

Dalam sebuah pernyataan pers, Asisten Sekretaris Kebijakan Ekonomi dan penasihat Menteri Keuangan AS Ben Harris menyebutkan hal ini dilakukan untuk menekan pendapatan Rusia yang diyakini digunakan untuk perang. Selain itu, ia mengutarakan bahwa kebijakan ini akan membuat negara-negara di dunia dapat memperoleh minyak Rusia dengan harga yang murah.

Menurutnya AS dan beberapa mitranya memang telah sepakat untuk menjatuhkan embargo pada minyak Rusia. Sehingga mereka tidak akan mengakses bahan bakar asal Moskow itu. Meski negara lain tidak ingin secara formal mengikuti langkah ini, Harris menyebut tarif batas atas ini dapat digunakan sebagai kekuatan negosiasi dengan Moskow agar tetap mendapatkan minyak murah.

“Pembeli mampu membeli minyak dengan biaya yang murah di bawah tarif batas atas ini,” ujarnya dalam sebuah teleconference, Jumat (9/9/2022).

“Dari langkah ini, negara tersebut (yang tidak menekan tarif batas atas secara formal) bisa menggunakan batas atas ini untuk bernegosiasi dengan Rusia meski tidak ikut pada kesepakatan itu,” tambahnya.

Sementara itu, terkait potensi sanksi bila tidak mengikuti manuver ini, Asisten Sekretaris untuk Pendanaan Teroris dan Kejahatan Keuangan di Departemen Keuangan AS, Elizabeth Rosenberg, menjelaskan bahwa pihaknya tidak akan menjatuhkan embargo terhadap pihak yang akan membeli minyak Rusia di luar harga batas atas.

Namun, ia menjelaskan bahwa negara yang mengambil keputusan itu justru akan mendapatkan kerugian ekonomi. Pasalnya, 90% pemberi layanan pembelian dan pengiriman minyak berbasis di Eropa dan Inggris melarang perusahaannya untuk memberikan layanan bila pembelian minyak Rusia berada di atas batas atas.

“Ini tentu membuat langkah itu sulit dilakukan karena tidak menguntungkan secara ekonomi. Namun hal ini tentu memungkinkan untuk dilakukan dan itu bukanlah pelanggaran,” jelasnya.

Sebelumnya, Indonesia melalui Pertamina dikabarkan sedang dalam komunikasi intens dengan Rusia terkait rencana pembelian minyak. Moskow disebutkan telah memberikan diskon yang besar bagi para pihak yang ingin membeli minyaknya.

Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut Rusia tak akan tunduk dengan tarif batas atas itu. Ia juga menegaskan Rusia tak akan mengirim minyak dan gas ke negara-negara yang menerapkan tarif batas atas ala G7.

“Kami tidak akan memasok apa pun jika itu bertentangan dengan kepentingan kami, dalam hal ini (kepentingan) ekonomi .Tidak ada gas, tidak ada minyak, tidak ada batu bara, tidak ada bahan bakar minyak, tidak ada apa-apa,” tegasnya di sela sela Forum Ekonomi Timur di Vladivostok itu, Rabu.