radarutama.com – Polisi telah melakukan pemeriksaan dengan alat uji kebohongan atau lie detector kepada para tersangka kasus pembunuhan Brigadir J.

Anggota Komisi Kepolisian Nasional ( Kompolnas ) Yusuf Warsyim mengatakan, alat poligraf yang digunakan adalah produksi tahun 2019 buatan Amerika Serikat yang sudah tersertifikasi baik secara internasional dan mendapat sertifikat ISO.

Menurutnya, tingkat akurasi dari alat poligraf tersebut yakni di atas 93 persen sebagai syarat hasilnya dapat pro justitia, serta dapat dijadikan alat bukti di pengadilan sebagai petunjuk dan keterangan ahli.

“Dari ahli bahwa poligraf secara universal sudah masuk dalam alat bukti SCI (Scientific Crime Investigation) dengan syarat tingkat akurasi di atas 90 persen,” ucapnya.

Namun, Lembaga Kajian Strategis Kepolisian ( Lemkapi ) meminta Tim Khusus Polri untuk tidak menjadikan hasil uji kebohongan (lie detector) tersangka kasus Ferdy Sambo sebagai alat bukti, tetapi hanya untuk pembanding saja.

“Jangan menjadikan hasil lie detector tersangka sebagai ukuran kebenaran dalam peristiwa kematian Brigadir J meskipun hasilnya dinyatakan jujur,” ucap Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian ( Lemkapi ) Dr Edi Hasibuan.

Ia mengatakan, hasil dari alat uji kebohongan ini tidak bisa dijadikan sebagai alat bukti di pengadilan, sebab hanya dipercaya sebanyak 60 persen saja.

“Hasil lie detector cuma dipercaya 60 persen kepolisian di dunia. Bagi orang yang biasa berbohong, dia tidak akan terpengaruh dengan alat kebohongan apa pun,” ucap Edi.

Edi mengatakan, dalam proses hukum polisi sebetulnya tidak mesti untuk mendapat pengakuan dari tersangka, sebab yang paling penting penyidik memiliki bukti-bukti pendukung.

“Tetapi yang paling penting, penyidik memiliki bukti-bukti pendukung yang cukup sesuai dengan tuduhan pembunuhan berencana Brigadir J,” ujarnya.

Edi menyarankan agar tim penyidik fokus saja kepada pengumpulan alat bukti yang sah sesuai dengan pasal 184 KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) yakni keterangan saksi, keterangan ahli, surat dan petunjuk.

“Kami yakni tim penyidik Polri sudah memahami ini,” ucapnya.

“Tentulah sangat positif dilakukan oleh penyidik. Ini tentu dapat dinilai sebagai upaya melengkapi alat bukti yang memang sebelumnya sudah cukup terpenuhi,” ujar Yusuf.

Yusuf menjelaskan bahwa Polri sudah lama menggunakan alat uji kebohongan ini pada beberapa kasus menonjol seperti, kasus pencabulan anak di Jakarta Selatan dan pembunuhan di Denpasar Bali.

“Hakim PN Jaksel dan PN Denpasar telah menjadikan hasil poligraf sebagai alat bukti surat atau keterangan ahli,” ujarnya.

Saat ini, polisi telah menahan tersangka Ferdy Sambo , Bripka Ricky Rizal, Bharada Richard Eliezer dan Kuat Ma’ruf.

Namun untuk istri dari Ferdy Sambo , yakni Putri Candrawathi yang juga merupakan tersangka belum juga ditahan hingga saat ini.***