radarutama.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengharapkan mahasiswa dan masyarakat umum dapat menjadi relawan dalam penanganan penyakit mulut dan kuku (PMK).

Ketua Tim Pentahelix/Analis Kebijakan Ahli Muda Direktorat Kesiapsiagaan BNPB IIs Yulianti mengatakan, mahasiswa dan masyarakat adalah salah satu unsur dalam kolaborasi pentahelix penanganan bencana.

“Ketika bencana terjadi, baik itu mahasiswa masyarakat ataupun komunitas lainnya, diharapkan menjadi relawan kebencanaan, relawan kemanusiaan yang di mana mereka memiliki kemampuan dan kepedulian untuk bekerja secara sukarela dan ikhlas dalam penanggulangan bencana,” ujar Iis dalam webinar “Peran dan fungsi mahasiswa serta masyarakat umum dalam mengendalikan PMK di Indonesia” secara daring diikuti di Jakarta, Jumat.

Iis mengatakan sinergi tersebut juga tertuang dalam Perka BNPB nomor 17 tahun 2011 tentang Pedoman Relawan Penanggulangan Bencana. Mahasiswa dan masyarakat bisa berperan dengan melakukan laporan kejadian PMK melalui aplikasi InaRisk BNPB.

Menurut dia, dengan melaporkan kejadian adanya penularan kasus PMK,mahasiswa dan masyarakat dapat berkontribusi dalam melakukan pemantauan pencegahan dan penanganan PMK. Selanjutnya, dapat menjadi tinjauan untuk membuat rekomendasi kebijakan.

“Kedua, bagaimana melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, peternak, dan pedagang,” ujar Iis.

Iis mengatakan dalam pelaksanaannya, diharapkan mahasiswa dan masyarakat dapat membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat lokal. Sehingga, sosialisasi dapat melakukanpemetaan tempat-tempat dengan kasus PMK yang dapat dilakukan intervensi lebih intens.

Selanjutnya, hal tersebut dapat ditangani perguruan tinggi itu melakukan kajian-kajian yang berkorelasi terhadap PMK pada hewan ternak.

“Jadi diharapkan mahasiswa dan masyarakat umum bisa ikut berkontribusi di dalam melakukan pengendalian PMK dengan melakukan laporan kejadian,” ujar Iis.

Iis menjelaskan aplikasi InaRisk dapat menggambarkan cakupan wilayah bencana ancaman bencana, populasi terdampak, potensi kerugian baik fisik maupun ekonomi, dan kerusakan potensi kerusakan lingkungan dan terintegrasi dengan berbagai data dan informasi untuk pelaksanaan kegiatan pengukuran sikap bencana.

“Dengan aplikasi itu, dapat diketahui seberapa berisiko wilayah yang ditinggali terhadap suatu bencana,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama Guru Besar Fakultas Peternakan UGM Prof Dr Ali Agus menyebut ahli veteriner dalam penanganan PMK di Indonesia tengah berupaya mencari formulasi protokol yang tepat dalam penanganan PMK.

Namun hal tersebut juga dapat dilakukan dengan melibatkan mahasiswa dan masyarakat untuk menentukan protokol yang tepat setelah dilakukan pengobatan pada hewan ternak. Terutama dalam penanganan hewan ternak saat mengalami penurunan produksi, pertumbuhannya, serta reproduksimya

“Harapan kami nanti kita kan punya protokol yang kita kaji di lapangan hasilnya saintifik dan data-data itu ilmiah,” ujar Ali.