radarutama.com – Indonesia berpotensi membuka kembali keran ekspor bijih nikel yang sejak 1 Januari 2020 lalu telah disetop. Hal itu terjadi bila nantinya Pemerintah Indonesia kalah dalam gugatan melawan Uni Eropa di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait penghentian ekspor bijih nikel.

Bila keran ekspor bijih nikel ini dibuka kembali, maka dikhawatirkan akan berdampak pada investasi fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel. Lantas, bagaimana tanggapan dari perusahaan di bidang pertambangan dan industri nikel?

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pun turut bersuara terkait isu ini.

Direktur Utama PT Aneka Tambang (Antam) Nico Kanter mengatakan bahwa pihaknya akan tetap fokus untuk menggenjot hilirisasi tambang sebagai komitmen kepada pemerintah. Utamanya, terkait peningkatan nilai tambah di dalam negeri.

Dengan demikian, Nico memastikan bahwa gugatan Uni Eropa ini tidak akan menjadi persoalan bagi perusahaan yang terus berkomitmen menyelesaikan proyek-proyek hilirisasi. Ia menegaskan bahwa proyek smelter untuk mendukung industri baterai tetap harus jalan.

“Kalau kita berpartisipasi dalam melihat hal itu ya sebagai perusahaan sebagai BUMN yang masuk komitmen itu kenapa kita mesti terpengaruh dengan adanya isu yang masih jadi isu,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPR, Kamis (9/9/2022).

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan bahwa Indonesia kemungkinan akan kalah atas gugatan di WTO terkait gugatan sengketa datang ekspor bijih nikel tersebut. Namun, Jokowi menilai bahwa yang terpenting bagi negara itu yaitu dengan melakukan penyetopan ekspor nikel mentah, Indonesia bisa mengubah tata kelola nikel di dalam negeri.

“Kelihatannya kita kalah (gugatan) tapi tidak apa-apa, industri kita akhirnya sudah jadi. Jadi kenapa takut? kalah tidak apa-apa syukur bisa menang,” terang Jokowi dalam acara Sarasehan 100 Ekonomi oleh INDEF dan CNBC Indonesia, Rabu (7/9/2022).

Adapun pemerintah Indonesia sudah menyetop ekspor nikel mentah sejak 1 Januari 2020. Melalui penyetopan ekspor nikel, kata Jokowi, lompatan pendapatan negara bisa naik menjadi 19 kali lipat.

“Di tahun 2021 ketika kita hilirisasi nikel, kita dapat US$ 20,9 miliar. Lompatannya, nilai tambah lompatannya 19 kali. Ini kalau mulai tarik lagi setop tembaga, timah dan nikel,” ungkap Jokowi.