radarutama.com – Ferdy Sambo dan tersangka lainnya pada kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J menjalani pemeriksaan menggunakan alat Lie Detector.

Tersangka diuji keterangannya apakah menyampaikan hal yang sejujurnya atau tidak dengan menggunakan alat uji kebohongan atau Lie Detector.

Pemeriksaan menggunakan Lie Detector terhadap Ferdy Sambo dilakukan di Puslabfor Polri, di Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Kadiv Humas Irjen Dedi Prasetyo membenarkan hal tersebut.

“Ya betul terkonfirmasi (dilakukan lie Detector hari ini). (Pemeriksaan Ferdy Sambo ) di Puslabfor Sentul,” ujarnya.

Sementara empat tersangka lain yakni, Bharada Eliezer, Bripka Ricky, Kuat Ma’ruf dan Putri Candrawathi juga sudah dilakukan pemeriksaan menggunakan alat Lie Detector.

Pemeriksaan dengan menggunakan alat tersebut diharapkan dapat membantu menyelesaikan kepingan puzzle pembunuhan Brigadir J .

Terkait seperti apa hasil dari pemeriksaan Lie Detector itu, Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Nurul Azizah, belum bisa memberikan informasi lebih lanjut.

Dia juga mengaku belum bisa memastikan kapan hasil pemeriksaan Ferdy Sambo bisa diumumkan.

“Kami belum terkonfirmasi terkait dengan pelaksanaan pemeriksaan terhadap IJP FS,” ucapnya.

Pihaknya berjanji, jika hasil pemeriksaan Lie Detector Ferdy Sambo akan segera diumumkan ke publik

Sementara itu, anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Yusuf Warsyim mengatakan alat polygraph yang digunakan Polri pada pemeriksaan tes uji kebohongan terhadap Ferdy Sambo dan tersangka lain sudah tersertifikasi baik dengan mendapat sertifikat ISO.

Dijelaskan Yusuf alat tersebut merupakan alat produksi 2019 buatan Amerika Serikat dengan tingkat akurasi di atas 93 persen.

“Dari ahli bahwa polygraph secara universal sudah masuk dalam alat bukti SCI (Scientific Crime Investigation) dengan syarat tingkat akurasi di atas 90 persen,” ujarnya dikutip dari PMJ News, Kamis, 8 September 2022.

Hasil yang nanti didapat dari alat tersebut bisa sebagai syarat pro justitia dan jadi alat bukti di pengadilan sebagai petunjuk dan keterangan ahli.

Yusuf mengatakan pemeriksaan dengan alat uji kebohongan ini untuk melengkapi alat bukti pemeriksaan selanjutnya.

“Tentulah sangat positif dilakukan oleh penyidik. Ini tentu dapat dinilai sebagai upaya melengkapi alat bukti yang memang sebelumnya sudah cukup terpenuhi,” ujarnya.

Polri, kata Yusuf, telah lama menggunakan alat uji kebohongan ini untuk mengungkap kasus besar diantaranya kasus pencabulan anak di Jaksel dan pembunuhan di Bali.

“Hakim PN Jaksel dan PN Denpasar telah menjadikan hasil polygraph sebagai alat bukti surat atau keterangan ahli,” ujarnya.

Sementara itu, terkait pasal yang disangkakan terhadap tersangka pembunuhan berencana Briagir J, Polri menyangkakan Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan 56 KUHP.***