Perjuangan Marc Marquez Jadi Joki Ducati Makin Berat dengan Embel-embel Juara Dunia MotoGP 6 Kali

Radar Utama – MotoGP 2024 menjadi babak baru bagi Marc Marquez usai memutuskan berpisah dari Repsol Honda dengan kontrak yang masih tersisa.

Dengan alasan motor yang kurang mumpuni, pembalap berjuluk Baby Alien akan tampil bersama Gresini Racing musim ini.

Nuansa optimistis untuk tampil kompetitif lagi digaungkan penggemar karena Gresini Racing merupakan tim pelanggan Ducati.

Hal tersebut membuat Marquez nantinya akan menggeber Ducati Desmosedici GP23 yang merupakan motor terbaik di grid saat ini.

Penjajakan untuk memuluskan masa adaptasi sudah dilakukan peraih enam gelar juara dunia MotoGP itu dalam agenda tes pramusim.

Dalam sesi pengujian terakhir di Sirkuit Lusail, Qatar bulan Februari 2024 lalu, Marquez menduduki urutan keempat.

Akan memiliki motor yang bisa dibilang lebih baik dari sebelumnya tidak serta merta membuat rider Spanyol itu santai.

Bayang-bayang ekspektasi yang tinggi dari penggemar yang ingin menyaksikan Marquez bisa tampil lebih kompetitif lagi.

Harapan guna melihat Marquez bisa tampil kompetitif juga datang dari pembalap kelas Moto2, Mattia Pasini.

Pria asal Italia itu menilai bahwa membela Gresini Racing akan menghadirkan tantangan yang tidak mudah bagi Marquez.

Dengan riwayat sebagai pembalap Jempolan, rider 31 tahun itu dituntut untuk sukses seperti halnya yang dilakukan di Repsol Honda.

Walau datang sebagai pembalap dengan enam gelar juara dunia di kelas utama, Marquez juga memiliki potensi gagal di Gresini Racing.

Hal tersebut tidak lepas dari kontrak yang dia terima bersama tim milik Nadia Padovani itu dengan jangka satu musim saja.

“Dia bisa mendapatkan sukses yang hebat di tim ini, tapi juga bisa sebaliknya,” ucap Pasini menjelaskan.

Marquez yang secara keseluruhan sudah menjadi juara dunia delapan kali di semua kelas dalam perjalanan kariernya harus terbiasa dengan ekspektasi menang.

Finis lima besar saja tidak cukup bagi Marquez ketika membela Gresini Racing pada musim ini.

“Bagi saya, seorang delapan kali juara dunia harus setidaknya bisa meraih kemenangan, bukan di lima besar,” ucap Pasini.

“Kalau tidak, pendapat saya ini akan membenarkan hal tersebut,” tuturnya menambahkan.

error: Content is protected !!