Travel  

Kisah Makam-makam Keramat Palsu di Sukabumi yang Dihancurkan FPI

radarutama.com – Makam-makam keramat bertebaran di Gunung Tangkil, Sukabumi. Sempat disalahgunakan untuk kemusyrikan, makam-makam itu akhirnya dihancurkan FPI. Begini kisahnya:

Gunung Tangkil Sukabumi menyimpan legenda, salah satunya keberadaan makam Syekh Qudratullah yang diyakini sebagai salah satu sosok penyebar agama Islam di pulau Jawa. Lokasi makam berada di ujung jalan setapak batu di kawasan Suaka Alam Sukawayana, Kabupaten Sukabumi.

Berbagai kisah pengalaman spiritual melegenda di kawasan itu, salah satunya soal seorang jemaah haji yang konon kehilangan dokumen penting miliknya saat mengikuti ibadah haji di Mekah, Arab Saudi. Namun, tiba-tiba dia bisa pulang dan berada di kawasan Gunung Tangkil, Sukabumi.

Kisah itu diceritakan warga Kecamatan Cisolok H Aceng. Dia mengaku sudah biasa mengantar orang berziarah dan salah satu lokasinya adalah Gunung Tangkil.

“Dulu ada seorang jemaah haji dari Bogor dia satu rombongan kurang lebih antara tahun 1987 sampai 1990, terus tiba tiba dia kehilangan identitas berupa paspor di sana, otomatis ketika orang lain pada pulang dia tertahan tidak bisa pulang karena kurang persyaratan tadi,” kata H Aceng.

Di tengah kebingungan, tiba-tiba jemaah haji itu bertemu dengan orang Indonesia yang memberinya petunjuk.

“Katanya kalau mau pulang ke Indonesia nggak usah bingung, sudah bilang saja ke orang yang baju putih sorban hijau, yang sedang duduk di Masjidil Haram. Katanya kamu bilang mau pulang pegangin sorbannya,” ujar Aceng.

Singkat cerita, orang itu bertemu dengan sosok yang dimaksud. Pria dengan sorban hijau itu didekati dan jemaah haji itu meminta pulang ke Indonesia.

“Dia bilang terus orang tua tersebut bilang kalau mau pulang ke indonesia cukup pejamkan mata pegang sorban saya. Terus hanya beberapa menit saja katanya dia begitu terbuka lagi matanya dia sudah di tengah makam, dia sendirian di sini orang itu tidak ada tapi di sana ada batu nisan gitu, maka orang tersebut menyimpulkan, yang di Masjidil Haram itu salah satu wali Allah yang berasal dari Indonesia, Wallahuallam,” tutur Aceng.

Meskipun Aceng tidak pernah bertemu dengan jemaah haji itu, namun kisahnya seolah sudah menjadi legenda. Salah satu buktinya dengan adanya sejumlah balkon dan keramik yang konon dibangun oleh jemaah haji tersebut sebagai ucapan terima kasih.

Sebagai ucapan terima kasih setelah pulang ke Bogor dia bangunin. Sebenarnya dulu sempat ada balkon tempat istirahat,” imbuhnya.

Namun, aksi perusakan sempat dilakukan oleh salah satu ormas pada tahun 2010 di lokasi itu. Dulu, ada beberapa makam palsu yang disalahgunakan untuk kemusyrikan. Makam-makam palsu itu dihancurkan, yang tersisa kini hanya makam keramat Syekh Qudratullah berupa punden dengan diapit dua pohon besar.

“Sekitar tahun 2010-an terjadi penyimpangan oleh sebagian oknum peziarah, orang-orang yang melakukan ziarah itu mendekati kemusyrikan sehingga oleh FPI dihancurkan tempat-tempat istirahatnya. Tapi untuk makam dan batu nisannya masih tetap utuh. Makam yang asli hanya ada satu dulu sempat ada dua dihancurkan,” jelas Aceng.

“Makam palsu itu katanya masih kasepuhan Eyang Taji Malela, padahal Eyang Taji Malela (makamnya) bukan di sini dan akhirnya di hancurkan,” sambungnya.

Meski terdapat setapak dan tangga dari batu tersusun serta punden berundak yang terindikasi peninggalan masa lampau, kawasan Gunung Tangkil belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Hal itu diungkap staf Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Olahraga Kabupaten Sukabumi Eldi Khairul Akbar.

“Waktu tahun 2020, saya coba ke lokasi Gunung Tangkil di cek pertama kali survey pertama menemukan jalan batu dan punden berundak di tahun itu. Kemudian ada punden berundak itu di tengah-tengahnya itu ada pohon. Kemudian terus beberapa bulan setelah survey saya dikasih tahu oleh salah satu dosen saya namanya pak Ali, cuma ada punden dan jalan batu itu adalah akses menuju punden tersebut,” kata Eldi.

Selain temuan itu, Sarjana Arkeologi jebolan Universitas Udayana Bali itu mendapat petunjuk lanjutan dari Balai Arkeologi (Balar) Bandung, bahwa di kawasan itu juga terdapat Menhir.

“Tahun 2021 saya ngobrol dengan orang Balar Bandung, puncak setelah punden di atas ditemukan Menhir nah cuma sejauh ini saya belum ke atas menhirnya ada dimana namun itu ada,” pungkasnya.

—-

Artikel ini telah naik di detikJabar dan bisa dibaca selengkapnya di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *