radarutama.com – Harga emas melonjak menjelang akhir pekan. Pada perdagangan Jumat (9/9/2022) pukul 15:20 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.726,93 per troy ons. Harga emas melonjak 1,15%.

Harga tersebut adalah yang tertinggi sejak 29 Agustus lalu atau 10 hari terakhir. Dalam sepekan, harga emas menguat 0,91% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas sudah amblas 3,7% sementara dalam setahun anjlok 3,8%.

Penguatan harga emas dibantu terpuruknya harga dolar Amerika Serikat (AS). Indeks dolar AS yang mengukur kinerja sigreenbackterhadap enam mata uang dunia lainnya menyusut ke posisi 108,5 atau terendahh sejak 25 Agustus lalu. Pelemahan dolar ini membuat emas menjadi lebih murah sehingga makin terjangkau dan menarik.

“Dengan melihat level saat ini, emas sepertinya sudah keluar dari bottom meskipun masih dalam jangka pendek,” tutur Michael Langford, analis dari AirGuide, seperti dikutip dari Reuters.

Namun, Langford mengingatkan pergerakan emas masih rawan pelemahan ke depan mengingat ada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). FOMC akan digelar pada 20-21 September. Chairman the Fed Jerome Powell berkali-kali telah menegaskan komitmen bank sentral untuk memerangi inflasi.

Pasar berekspektasi jika bank sentral AS The Federal Reserve/the Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps. Kenaikan suku bunga akan melambungkan dolar AS sehingga emas bisa kembali tertekan.

Sepanjang tahun ini emas biasanya langsung terpuruk menjelang pertemuan FOMC atau setelah kenaikan suku bunga acuan the Fed.

Harga emas bahkan sudah jatuh sekitar US$ 150 dari US$ 1.876 pada awal Mei menjadi di kisaran US$ 1.726 pada saat ini. Pada periode tersebut, the Fed menaikkan suku bunga acuan tiga kali yakni 50 bps pada Mei dan 75 bps masing-masing pada Juni dan Juli.

TIM RISET CNBC INDONESIA