Penyiar banyak belajar, kuncian ala legenda TVRI Yasir Den Has

“Kalau dulu ada aturan atau prasyaratnya. Kalau kita dulu mau siaran itu memang harus tampil prima. Cara berbusana harus pakai jas. Jas dibawa sendiri dari rumah. Tapi kita biasanya mendapat jatah dalam berapa bulan sekali. Tinggal mengukur saja ke penjahit, dan itu menjadi hak milik. Mungkin ada lusinan jas pribadi saya,” tambahnya.

Menurut Yasir, prasyarat utama penyiar dulu itu adalah suara. Kemudian, yang kedua, baru profil penampilan. Performanya kira-kira ‘kena’ dan ‘masuk atau tidak’ di kamera.

“Tapi yang paling utama itu adalah suara. Berbeda dengan sekarang. Sekarang (jenis) suara apa saja boleh. Penampilannya lebih banyak penampilan cuek,” cetusnya.

Stasiun TV mutakhir disorot Yasir, dengan kinerja agak formal dan lebih bagus itu antara lain MetroTV, kemudian KompasTV, dan satu-dua ada di TVOne.

“Kalau (stasiun) yang lain kita tidak bisa membedakan itu penyiar berita atau artis,” tanggapnya.

Saat aktif menyiar di TVRI, Yasir sudah ada dua jam sebelum acara Dunia Dalam Berita dimulai. Sementara naskah berita diterimanya satu jam sebelumnya. Persiapannya satu jam pertama ialah berdandan, make-up, selesai itu mengoreksi isi berita yang akan dibacakan.

Sudah menjadi kebiasaan Yasir, misalnya akan siaran nanti malam, maka pagi-pagi dia sudah mendengarkan stasiun-stasiun radio dari luar negeri semacam BBC London, Deutsche Welle, dan Radio Australia. Karena dia memperkirakan bahwa nanti malam pasti berita TVRI yang keluar tidak berbeda jauh dengan yang telah didengarnya pagi-pagi di radio-radio asing tersebut.

“Yang saya utamakan itu adalah pronounciation (pengucapan). Satu kata asing bagaimana cara membacanya. Oh, begini yang benar. Jadi, alhamdulillah begitu saya on-air pukul 21:00 di TVRI, rasanya jarang saya salah baca, terutama pengucapan untuk istilah-istilah asing,” ujar Yasir.

Dia bisa menunjukkan kekeliruan ucap penyiar TV saat ini membaca kantor berita Reuters, Grand Prix di Mandalika, dan ibu kota Ukraina, Kiev.

Di TVRI, ada perpustakan, di situ ada ensiklopedi. Yasir lebih banyak belajar dari situ. Kalau misalnya dia temukan, pada waktu mengecek berita, ada istilah yang agak aneh, yang belum pernah dia dengar, maka dibukanya dulu ensiklopedi. Bagaimana pengucapannya. Jadi, begitu membaca sudah tidak salah. Ditambah lagi pagi-pagi sebelumnya sudah mendengar stasiun radio luar negeri. Banyak belajar, kuncinya.

“Penyiar itu sebetulnya harus terus-menerus belajar. Tidak boleh kita merasa bahwa diri kita sudah mapan jadi penyiar, tidak perlu lagi belajar. Nonsense itu,” tegasnya.


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!