radarutama.com – Ratu Elizabeth II mangkat. Kepergian Ratu Inggris untuk selama-lamanya telah menandai akhir sebuah era.

Kamis (8/9) waktu setempat, Sang Ratu meninggal dunia di Istana Balmoral, Skotlandia, di usia seabad kurang empat tahun. Di luaran Istana Buckingham, warga Inggris berjubel, sebagaimana dilaporkan BBC, Jumat (9/9/2022).

Elizabeth Alexandra Mary Windsor lahir pada 21 April 1926, di sebuah rumah di dekat alun-alun Berkeley di pusat kota London.

Ia adalah anak perempuan tertua dari Albert atau Duke of York -yang merupakan putra kedua Raja George V- dan istrinya yang dikenal sebagai Lady Elizabeth Bowes-Lyon.

Di masa perang, ayah Elizabeth menjadi raja, namanya adalah Raja George VI. Penobatan ayahnya sebagai raja memberikan Elizabeth kecil gambaran mengenai masa depannya yang membuatnya menulis bahwa ia menilai pengabdian pada negara ‘sangat, sangat luar biasa’.

Dilatarbelakangi meningkatnya ketegangan di Eropa, sang Raja baru -dengan istrinya yang kini dikenal sebagai Ratu Elizabeth- berusaha untuk mengembalikan kepercayaan publik pada monarki.

Pada Januari 1952, Elizabeth yang berusia 25 tahun, dan Philip meninggalkan istana untuk melakukan lawatan ke luar negeri. Meski dilarang oleh dokter, Raja George VI tetap ikut ke bandara untuk mengantar mereka dan ternyata saat itu terakhir kalinya Elizabeth melihat ayahnya.

Elizabeth mendengar kematian raja ketika tinggal di sebuah pondok berburu di Kenya dan langsung kembali ke London untuk menjadi ratu yang baru. Dia menjadi ratu pada usia 27 tahun.

“Saya tidak punya bekal apa-apa, ayah saya meninggal terlalu cepat, jadi hal itu merupakan sesuatu yang sangat mendadak dan saya harus melakukannya sebaik mungkin,” kata Elizabeth, beberapa tahun kemudian. Dia dinobatkan menjadi Ratu Inggris pada Juni 1953.

Awal kepemimpinan Ratu Elizabeth II diisi oleh situasi krisis Suez. Banyak negara bekas koloni Inggris memerdekaan diri, India salah satunya. Selanjutnya, semakin banyak bekas jajahan Inggris menurunkan Bendera Persemakmuran. Sengketa Suez tahun 1956 mempercepat kondisi itu. Perdana Menteri Inggris saat itu, Anthony Eden, mundur dan menempatkan Ratu di tengah krisis politik.

Era Perdana Menteri Margaret Thatcher (yang sama-sama perempuan) adalah era yang ‘membingungkan’ bagi publik. Ratu Elizabeth II dilaporkan merasa bahwa sikap dan gaya Thatcher yang konfrontatif ‘membingungkan’ termasuk sikap menentang Thatcher terhadap sanksi atas apartheid di Afrika Selatan.

Simak video ‘Kenali Sejarah Kerajaan Inggris dan Penguasa Pertamanya’:

Selanjutnya, era ’90-an, Lady Diana meninggal dunia:

Setelah Perang Teluk pada 1991, Ratu pergi ke AS dan menjadi penguasa kerajaan Inggris pertama yang berpidato di hadapan Kongres. Presiden Bush mengatakan ia telah menjadi ‘teman kebebasan sepanjang masa’.

Selanjutnya, ada peristiwa penting di keluarga ningrat ini. Pangeran dan Putri Wales, Charles dan Lady Diana , diklaim oleh media sebagai tidak bahagia. Mereka kemudian berpisah.

Ratu menyebut 1992 sebagai ‘tahun yang sulit’ baginya, dan dalam pidato di London, tampak siap untuk mengadopsi monarki terbuka.

“Tak ada institusi, Kota, Monarki, apa pun itu, yang dapat berharap bebas dari pengawasan orang-orang baik yang setia mau pun tidak. Tapi kita berasal dari bahan yang sama dan pengawasan bisa efektif meski melibatkan kelembutan, humor dan pengertian,” kata Sang Ratu.

Di rumah, Ratu terus berusaha mengukuhkan monarki sementara debat publik terus berlanjut untuk menentukan apakah institusi itu memiliki masa depan.

Tetapi, monarki terguncang dan Ratu memicu kritik setelah kematian Diana, Putri Wales dalam kecelakaan mobil di Paris pada Agustus 1997.

Pada tanggal 9 September 2015, dia menjadi pemegang tahta paling lama dalam sejarah Inggris, melampaui nenek buyutnya Ratu Victoria.

Selanjutnya, Ratu terlama:

Kurang dari setahun kemudian, pada April 2016, ia merayakan ulang tahun ke-90. Ia terus menjalankan tugasnya walau usia sudah memasuki 90, dan sering melakukannya sendiri setelah suaminya pensiun pada 2017.

BBC menyebut Elizabeth menjadi ratu di usia muda, namun menjadi ratu terlama di Inggris. Dia bertahta selama tujuh dekade.

Dia punya sejumlah peran. Di parlemen (otoritas legislatif tertinggi Inggris), wewenangnya telah memudar dan bersifat ritual saja. Namun dia berwenang meminta perdana menteri terpilih untuk membentuk pemerintahan. Ratu Inggris jugaberwenang membuka dan membubarkan parlemen.

Ratu Inggris juga berwenang memberi persetujuan atas rancangan undang-undang untuk menjadi undang-undang. Namun demikian, ini hanyalah praktik prosedural belaka. Terakhir, ada Ratu Anne yang menolak persetujuan RUU pada tahun 1708. Sebenarnya, Ratu Inggris punya hak prerogatif dalam kondisi krisis konstitusional yang parah, meski penggunaan kewenangan itu tidak pernah terjadi sampai saat ini.

Ratu Inggris juga berwenang menunuuk Lord dan Knight, gelar kebangsawanan Inggris yang diberikan pada orang-orang berjasa. Ratu juga sebagai gubernur tertinggi Gereja Inggris. Dia berwenang menunuuk uskup dan uskup agung, atas saran Komisi Gereja.

Begitu Ratu Elizabeth II meninggal, takhta langsung dipegang oleh penerus, Charles, tanpa upacara. Raja Charles III, mengatakan berpulangnya sang ibu tercinta adalah “momen kesedihan yang sangat mendalam” bagi dirinya dan bagi keluarganya.

Pada Jumat (09/09), Charles secara resmi akan diangkat sebagai Raja oleh Dewan Penobatan di Istana St James’s, London. Telah dipastikan ia akan disebut Raja Charles III dan dalam beberapa hari mendatang ia akan diproklamirkan sebagai raja baru.

Begitu Ratu Elizabeth II meninggal, takhta langsung dipegang oleh penerus, Charles, tanpa upacara. Raja Charles III, mengatakan berpulangnya sang ibu tercinta adalah “momen kesedihan yang sangat mendalam” bagi dirinya dan bagi keluarganya.

Pada Jumat (09/09), Charles secara resmi akan diangkat sebagai Raja oleh Dewan Penobatan di Istana St James’s, London. Telah dipastikan ia akan disebut Raja Charles III dan dalam beberapa hari mendatang ia akan diproklamirkan sebagai raja baru.