radarutama.comTRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Seniman Umar Chusaeni menilai Festival Indonesia Bertutur dapat menumbuhkan ekosistem kesenian dan kebudayaan.

Rangkaian festival Indonesia Bertutur 2022 hari kedua diawali dengan kegiatan temu seniman di Limanjawi Art House.

“Ini dapat menjadi tumbuhnya ekosistem kesenian dan kebudayaan di Magelang. Seniman-seniman bebas berkarya di Limanjawi ini,” ujar Umar Chusaeni melalui keterangan tertulis, Jumat (9/9/2022).

Dalam temu seniman ini, Umar Chusaeni, Yasumi Ishii, dan Utami Atasia Ishii berbicara tentang karya yang mereka pamerkan dalam Visaraloka Pameran Expanded Media, yang dipandu oleh Istifadah Nur Rahma sebagai moderator.

“Saya merasa senang sekali Limanjawi Art House dilibatkan dalam gelaran besarIndonesia Bertutur 2022,” kata Umar.

Selain acara tersebut, penyanyi Tulus turut tampil dalam acara yang digelar di kawasan percandian Borobudur ini.

Tulus mendapatkan sambutan meriah saat tampil di Anarta Panggung Lumbinimembawakan 10 karyanya.

Sore hari, di Virama Panggung Senja, penampilan Ardhito Pramono dan Peni Candra Rini ikut memanaskan para pengunjung.

Sebanyak 40 UMKM yang telah dikurasi oleh Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKMKabupaten Magelang menjadi bagian Indonesia Bertutur.

Penggemar film tari juga mendapat suguhan sajian film pendek dan film feature karya seniman mancanegara.

Program Layarambha menampilkan film berjudul Anerca, Breath of Life karya Johannes dan Markku Lehmuskallio dari Finlandia.

Pada sesi malam, film berjudul Lucy karya Er Gao dan Touching the Skin of Eeriness karya sutradara Jepang Ryusuke Hamaguchi diputar di Layarambha.

Pada jam 17:00 diadakan Diskusi Film yang memperkaya Layarambha, dengan mengundang narasumber Garin Nugroho, Razan Wirjosandjojo, Ipul Ashyari, In Ainar Lawide, dan dimoderatori Akbar Yumni.

Pertunjukan bertajuk Song for Sangiran 17 yang dibawakan oleh Prehistoric BodyTheatre menjadi pertunjukan pembuka di Panggung Aksobya.

Seperti diketahui, Kemendikbudristek menggelar Festival Indonesia Bertutur sebagai sarana untuk menjaga budaya berkelanjutan.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid merancang festival ini agar dapat memfasilitasi para pelaku budaya sekaligus memperluas akses publik atas warisan budaya yang dimiliki Indonesia.

“Dengan perkembangan teknologi, terutama di bidang media, kami ingin mendorong pemanfaatan teknologi agarbpublik memiliki akses yang semakin besar terhadap warisan budaya yang kita miliki dan dapat memanfaatkan warisan budaya tersebut sebagai sumber ilmu pengetahuan,” ujar Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid , di Jakarta (31/8).