Pemilu Israel: Netanyahu Berpotensi Maju Lagi dengan Dukungan Partai Anti-Palestina

radarutama.com – – Hanya berselang 16 bulan setelah lengser dari kursi perdana menteri, Benjamin Netanyahu berpeluang besar melancarkan comeback ke pucuk kekuasaan Israel .

Hasil survei terakhir beberapa hari menjelang pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) yang digelar pada Rabu (2/11/2022) menunjukan, koalisi pendukung Netanyahu berpeluang besar mencapai mayoritas 61 kursi di Knesset, parlemen Israel.

Jika berhasil, ini akan menjadi kemenangan luar biasa bagi Netanyahu yang saat ini sedang menghadapi persidangan sejumlah kasus korupsi yang membelitnya.

Politisi berusia 73 tahun itu didakwa dalam tiga kasus terpisah telah menipu, melanggar kepercayaan, sekaligus menerima suap.

Dakwaan pertama adalah menerima hadiah senilai ratusan ribu dollar AS dari koleganya.

Dakwaan kedua mendakwa Netanyahu mengatur liputan di sebuah surat kabar besar Israel. Liputan yang bernada positif itu dijanjikan imbalan berupa promosi undang-undang yang akan merugikan saingan utama surat kabar itu.

Kasus dakwaan ketiga yang dijuluki Kasus 4000 mendakwa Netanyahu mempromosikan UU senilai ratusan juta dollar AS kepada pemilik raksasa telekomunikasi Israel, Bezeq.

Mirip dengan kasus kedua, Netanyahu meminta liputan positif di situs berita Walla yang berafiliasi dengan Bezeq sebagai imbalannya.

Partai kanan jauh anti-Arab sebagai Kingmaker

Kunci apakah Netanyahu akan berhasil comeback ada di koalisi Religius Zionis. Koalisi berideologi ultra nasionalis kanan jauh anti-Arab ini digadang-gadang akan menjadi partai ketiga terbesar di Knesset.

Pencapaian ini sangat fenomenal mengingat tokoh-tokoh koalisi ini kerap dikritik rasialis, karena berkali-kali menyerukan untuk mengusir warga Arab Israel yang berjumlah 20 persen dari tanah Israel.

Selain itu, koalisi ini juga menolak pembentukan negara Palestina dan menyerukan pencaplokan total Tepi Barat.

Tokoh utama koalisi adalah Itamar Ben-Gvir, sosok yang diprediksi akan menjadi kingmaker penentu PM Israel berikutnya.

Sekutu Israel seperti Amerika Serikat telah mewanti-wanti peluang kerja sama politik antara Netanyahu dan Ben-Gvir.

Ben-Gvir kerap dikritik sebagai sosok ekstrem kanan karena menyerang warga Arab Israel sebagai teroris yang simpatik terhadap Palestina. Dia populer di mata warga Yahudi Ortodoks. Popularitasnya terus meningkat menjelang pemilu setelah isu keamanan menjadi isu menonjol di pemilu.

Politisi berusia 46 tahun itu bahkan mencanangkan pembentukan kementerian untuk mengatur emigrasi keluar warga Arab dari Israel.

Sepanjang tahun ini, tercatat sedikitnya 170 warga Palestina dan 20 warga Israel tewas akibat konflik kekerasan berkepanjangan antara kedua negara itu.

Bagi Netanyahu, jika kembali ke kursi PM dengan dukungan dari mitra koalisinya yang konservatif, dia berpeluang lolos dari jeratan kasus hukum yang membelenggunya.

Politisi berjuluk King Bibi itu masih menjadi sosok yang membelah Israel. Pendukungnya tetap loyal menyebut dia sebagai satu-satunya politisi yang kompeten memimpin Israel di tengah krisis ekonomi dan keamanan yang melanda. Pembencinya menilai dia telah memimpin terlalu lama dan hanyut dalam korupsi kekuasaan.

Pesaing utama Netanyahu adalah Perdana Menteri Yair Lapid . Kendala terbesar Lapid yaitu apakah dia akan mampu membentuk pemerintahan baru dengan gabungan koalisi yang ideologinya bertentangan satu sama lain.

Pemilu Israel kali ini akan menjadi yang kelima dalam 3,5 tahun bagi negara itu. Instabilitas politik terus melanda Israel yang mengakibatkan terus digelarnya pemilu dini.

Pemerintahan PM Naftali Bennett sebelumnya kolaps satu tahun setelah menjabat akibat tidak akurnya mitra koalisi pelanginya yang berideologi kanan, sentris, dan kiri dengan dukungan Partai Arab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *