radarutama.com – Pasukan Rusia kembali menggempur wilayah Bakhmut, Ukraina bagian timur. Sedikitnya delapan orang dilaporkan tewas, dengan 17 orang lainnya mengalami luka-luka akibat gempuran terbaru Rusia itu.

Seperti dilansir AFP, Jumat (9/9/2022), pasukan Ukraina berupaya merebut kembali sebagian besar wilayah Donbas . Gubernur regional Donetsk, Pavlo Kyrylenko, melaporkan bahwa serangan Rusia terhadap kota Bakhmut yang terletak di Donbas telah ‘memicu kerusakan terburuk’.

“Serangan Rusia menewaskan delapan orang di sana dan melukai 17 orang lainnya,” tutur Kyrylenko dalam pernyataannya.

Disebutkan Kyrylenko bahwa gedung-gedung permukiman, pertokoan, sebuah gedung budaya dan sebuah pusat pemerintahan, serta pasar mengalami kerusakan akibat gempuran Rusia.

“Kota itu telah tanpa pasokan air dan listrik selama untuk hari keempat,” sebutnya.

“Perbaikan tidak mungkin dilakukan karena pertempuran yang terus berlangsung,” imbuh Kyrylenko dalam pernyataannya.

Kantor kepresidenan Ukraina dalam pernyataan terpisah menyebut sembilan orang tewas secara total dalam pertempuran di Donetsk dalam 24 jam terakhir. Satu orang lainnya dilaporkan tewas di wilayah Kharkiv.

Otoritas Ukraina juga menyebut serangan balik pasukan Kiev terhadap pasukan Rusia di wilayah Kharkiv telah mendapatkan momentum.

Seperti diumumkan Presiden Volodymyr Zelensky pada Kamis (8/9) waktu setempat bahwa pasukan Ukraina berhasil merebut kembali Balakliya, sebuah kota berpenduduk nyaris 30.000 jiwa yang dikuasai Rusia selama enam bulan terakhir.

Ruas jalanan dari Kharkiv menuju ke Balakliya, menurut laporan jurnalis-jurnalis AFP, telah dibuka kembali pada Jumat (9/9) waktu setempat. Antrean terpantau di beberapa titik pemeriksaan, dengan kendaraan sipil maupun militer terlihat di ruas jalanan tersebut.

Pada Kamis (8/9) waktu setempat, otoritas Ukraina mengklaim pasukannya berhasil mendapatkan keuntungan dalam pertempuran di wilayah utara, selatan dan timur negara itu, dengan merebut beberapa wilayah yang dikuasai pasukan Rusia sejak menginvasi Ukraina sekitar tujuh bulan lalu.