radarutama.com – Di era media sosial ini, semua orang memimpikan kekayaan untuk meraih kebahagiaan .

Rasanya kita pasti pernah berharap memiliki lebih banyak uang agar bisa berlibur ke mana saja, belanja barang mewah atau membeli iphone terbaru kapan saja.

Pencapaian finansial dianggap bisa memberikan kebahagiaan dengan berbagai cara, termasuk membeli semua barang yang kita inginkan.

Pemikiran ini rupanya normal karena kita membutuhkan rasa aman dalam hidup, dalam hal ini diwakili oleh kemampuan keuangan.

Kekayaan mewakili rasa aman sehingga memicu kebahagiaan

Perasaan aman adalah salah satu syarat utama manusia agar bisa merasa bahagia .

Pada tingkat literal, ini berarti merasa aman dari serangan yang sifatnya fisik maupun emosional.

Hal ini pula yang membuat kita merasa perlu dipahami, mendapatkan empati dan divalidasi secara psikologis.

Dalam soal material, kekayaan dianggap sebagai hal penting sebagai bukti dari keamanan finansial.

Harta yang dimiliki ini bukan hanya soal rumah yang ditinggali atau makanan yang cukup namun jauh lebih kompleks lagi.

Pikiran soal kekayaan yang berlebihan menghilangkan rasa rentan kita terhadap berbagai hal berbahaya sehingga dianggap dapat memunculkan kebahagiaan.

Faktanya, tulisan yang dimuat di Los Angeles Times menyatakan jika orang kaya memiliki peluang lebih tinggi untuk tidak merasa bahagia.

Hal ini mengacu pada salah satu riset rumah tangga di AS yang mengatakan jika orang dengan aset lebih dari 10 juta dollar AS, senilai Rp148 miliar, terbukti tidak bahagia.

Mereka bahkan mengeluh jika hartanya menciptakan lebih banyak masalah daripada kepuasan.

Sepertiga lainnya menegaskan bahwa mereka terus-menerus khawatir tentang memiliki cukup uang.

Untuk merasa lebih aman, para responden di semua kategori kekayaan, merasa perlu memiliki harta dua kali lipat dibandingkan yang sudah mereka miliki.

Artinya, kebahagiaan lebih bersifat emosional dan psikologis daripada finansial belaka.

Tidak ada jumlah kekayaan yang dapat mengubah pikiran yang tidak disadari dan tertanam kuat yang mungkin dimiliki seseorang tentang diri mereka sendiri, terkait soal rasa bahagia.

Selain itu, riset tahun 2010 di Universitas Princeton membuktikan orang dengan penghasilan 75.000 dollar AS per tahun mewakili pendapatan yang ideal, yang berarti bahwa hal itu paling erat kaitannya dengan kepuasan finansial dan kesejahteraan emosional individu.

Namun, penghasilan yang lebih tinggi dari batas tersebut tidak memberikan perbedaan signifikan dalam tingkat kebahagiaanya.

Hanya saja penghasilan kurang dari 75.000 dollar AS disamakan dengan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dan tingkat stres, kekecewaan, dan kesedihan yang lebih tinggi.

Di sisi lain, studi kedua, yang dilakukan pada tahun 2021, sampai pada kesimpulan yang sangat berbeda yakni jika pendapatannya meningkat maka bertambah pula kebahagiaannya.

Kesimpulan tersebut berdasarkan survei terhadap 33.000 orang dewasa dan lebih dari 1,7 juta sampel laporan.

Ditemukan hubungan langsung antara pendapatan yang lebih tinggi, perasaan sehari-hari yang lebih baik, dan kepuasan hidup yang lebih besar secara keseluruhan.

Sejumlah penelitian ini membuktikan kekayaan dalam jumlah tertentu mungkin berkorelasi dengan nilai-nilai yang dianggap penting.

Untuk mendapatkan kebahagiaan, kita tak hanya perlu memiliki uang yang cukup untuk membeli barang-barang berharga namun juga mampu meraih pengalaman-pengalaman non-materi yang paling berarti.